abdahdelphi.blogspot.com

Selasa, 01 Februari 2011

Israel terkejut karna obama menghianati mubarak

Hosni Mubarak.

Jika Presiden Mesir Husni Mubarak digulingkan, Israel akan kehilangan salah satu teman di lingkungan yang memusuhinya dan Presiden Barack Obama akan menanggung sebagian besar kesalahan, kata para pakar Israel pada hari Senin.

Komentator politik Israel menyatakan terkejut melihat bagaimana Amerika Serikat serta sekutu utama Eropa-nya tampak siap membuang sekutu strategis mereka yang setia selama tiga dekade, hanya untuk menyesuaikan diri dengan ideologi kebenaran politik saat ini.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan kepada Menteri Luar Negeri untuk tidak membuat komentar atas kekacauan politik di Kairo, untuk menghindari terkobarnya situasi yang sudah eksplosif. Tapi tidak dengan Presiden Israel Shimon Peres.

"Kami selalu dan masih sangat menghormati Presiden Mubarak," katanya, Senin. Dia kemudian beralih ke masa lampau. "Saya tidak mengatakan bahwa segala sesuatu yang dia lakukan adalah benar, tetapi dia melakukan satu hal yang kita semua berterima kasih padanya: dia menjaga perdamaian di Timur Tengah"

Sementara kolumnis koran jauh lebih tumpul.

Satu komentar oleh Aviad Pohoryles dalam harian Maariv berjudul "Peluru di Punggung dari Abang Sam." Ia menuduh Obama dan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton mengejar diplomasi naif, sombong, dan lalai dari risikonya.

Siapa yang menasihati mereka, ia bertanya, "untuk memberi bahan bakar massa yang mengamuk di jalan-jalan Mesir dan menuntut pimpinan masyarakat yang lima menit lalu adalah sekutu berani presiden ... sebuah suara yang hampir satu-satunya kewarasan di Timur Tengah? "

"Diplomasi presiden Amerika sepanjang generasi ... adalah naif."

Obama pada hari Minggu menyerukan untuk sebuah "transisi tertib" menuju demokrasi di Mesir, berhenti menyerukan kepada Mubarak untuk mundur, tetapi mengindikasikan bahwa hari-harinya mungkin tidak lama lagi.

Sementara Netanyahu memerintahkan duta besar Israel di sejumlah kota besar pada akhir pekan untuk menekankan kepada pemerintah setempat bahwa stabilitas Mesir adalah hal yang terpenting, menurut sumber-sumber resmi.

"Yordania dan Arab Saudi melihat reaksi di Barat, bagaimana semua orang meninggalkan Mubarak, dan ini akan mempunyai implikasi yang sangat serius," harian Haaretz mengutip seorang pejabat.

Mesir, tetangga Israel yang paling kuat, adalah negara Arab pertama yang berdamai dengan negara Yahudi itu pada tahun 1979. Presiden Mesir Anwar Sadat, yang menandatangani perjanjian itu, dibunuh dua tahun kemudian oleh orang  Mesir.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar