abdahdelphi.blogspot.com

Selasa, 15 Maret 2011

Hamas : Kami tidak bertanggung jawab atas pembantaian kaum yahudi beberapa pekan lalu

JALUR GAZA (Berita SuaraMedia) - Warga Palestina tidak bertanggung jawab atas pembunuhan dari keluarga lima orang Israel di pemukiman Itamar pada Jumat malam, menurut pemerintah Gaza, pada hari Minggu. Pemerintah  Israel dengan segera menyalahkan Palestina atas serangan itu, dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Otoritas Palestina melakukan "hasutan harian" terhadap Israel sebagai tanggapannya kepada pembunuhan tersebut.
Namun, juru bicara pemerintah Gaza Taher An-Nunu mengatakan pemerintah Israel tidak boleh mengesampingkan kemungkinan bahwa serangan itu dilakukan oleh penjahat Israel sendiri.
Hamas telah membantah keterlibatannya dalam serangan itu.
Sebuah faksi bayangan yang menamakan diri "Imad Mughniyya Grup" mengaku bertanggung jawab atas serangan itu tapi pemerintah Israel telah menolak klaim lainnya dari kelompok tersebut di masa lalu. Kelompok ini telah mengaku bertanggung jawab atas operasi lainnya di masa lalu yang mungkin merupakan pekerjaan orang lain.
Sejauh ini, tidak ada fraksi lain yang telah menyatakan keterlibatannya.
An-Nunu memperingatkan Israel agar tidak menggunakan pembunuhan tersebut untuk membenarkan suatu eskalasi dalam kekerasan terhadap warga di Jalur Gaza.
Dia mengatakan bahwa mengalihkan krisis domestik Israel ke sebuah hasutan terhadap rakyat Palestina adalah "pemerasan politik yang tidak bisa diterima."
Dalam waktu 24 jam serangan, menteri Israel bertemu dan memutuskan untuk menyetujui ekspansi besar di pemukiman khusus Yahudi  di Tepi Barat.
Para pemukim ilegal telah meluncurkan serangkaian serangan mematikan terhadap warga Palestina di Tepi Barat, menyerbu desa-desa, melecehkan penduduk di rumah mereka, menghancurkan toko-toko dan melemparkan batu pada mobil-mobil Palestina.
Masyarakat internasional mengakui bahwa pembangunan perumahan khusus Yahudi pada tanah Palestina yang diduduki adalah ilegal menurut hukum internasional dan Konvensi Jenewa, dan telah berulang kali menyerukan Israel untuk menghentikan pembangunan tersebut.
Penolakan Israel menyebabkan runtuhnya putaran terakhir perundingan pada bulan September.
Sementara itu, berpidato di hadapan kabinetnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berkata Abbas menghubunginya untuk berbela sungkawa atas kekerasan tersebut.
"Saya mengatakan kepadanya bahwa kami mengharapkan pengutukan yang jauh lebih tegas, tetapi bahkan lebih dari itu, kita ingin melihat tindakan tegas oleh Palestina untuk menghentikan kekrasan ini," katanya.
Pasukan Israel dilanjutkan dengan hari kedua penggerebekan di desa-desa Palestina sekitar Itamar, yang memiliki hubungan yang buruk dengan tetangga Arabnya. Para pejabat mengatakan sekitar 20 tersangka berada dalam tahanan, walaupun tidak ada keputusan pada apakah ada yang diyakini sebagai pembunuh.
Tamparan lain bagi Palestina adalah bahwa  Israel mengumumkan bahwa tim khusus dari menteri kabinet yang dipimpin oleh Netanyahu menyetujui pembangunan sampai 500 rumah baru di pemukiman Yahudi. Dalam sebuah kunjungan kepada orang tua pasangan yang meninggal tersebut, Netanyahu mengatakan, "Mereka menembak, kita membangun," menurut pernyataan dari kantornya.
Seorang pejabat Israel, berbicara dengan syarat anonim di bawah peraturan pemerintah, mengatakan pembangunan itu dimaksudkan untuk menghalangi "siapa pun yang berpikir bahwa dengan pisau, orang Yahudi akan meninggalkan rumah mereka."
Permukiman Yahudi merupakan jantung kebuntuan dalam upaya perdamaian saat ini. Orang-orang Palestina menolak untuk bernegosiasi selama Israel memperluas daerah kantong, yang dibangun di atas wilayah Palestina yang diduduki.
Utusan Timur Tengah PBB, Robert Serry, mengkritik konstruksi baru tersebut sebagai kontraproduktif.
Nabil Shaath, seorang penasehat tinggi presiden Palestina, dengan marah menolak kritik Israel dan menuduh Netanyahu berusaha untuk mengeksploitasi pertumpahan darah untuk kepentingan politik.
"Kami tidak pernah berhenti mengutuk pembunuhan warga sipil, apakah mereka orang Palestina atau Israel, dan kami berharap bahwa Israel melakukan hal yang sama," katanya. "Netanyahu mencoba menggunakan serangan ini untuk memeras politik Palestina... dan meningkatkan pembangunan pemukiman dan melarikan diri persyaratan proses perdamaian

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar