abdahdelphi.blogspot.com

Minggu, 17 Oktober 2010

AS Takkan Menangkan Perang Afghanistan






Memasuki tahun ke-10, belum ada hasil signifikan pada invasi AS ke Afghanistan. Banyak pihak meyakini, Amerika takkan memenangkan perang ini.

Salah satunya disampaikan Richard Becker dari koalisi kelompok aktivis Act Now to Stop War and End Racism (ANSWER). Menurutnya, perang ini sudah hampir mencapai titik kulminasinya. Baik untuk Afghanistan dan negara tetangganya Pakistan, serta Amerika sendiri.

"Saya tak yakin Amerika akan memenangkan perang tersebut secara militer. Jadi Amerika saat ini sedang mencari cara hindari kekalahan destruktif," ujarnya ketika diwawancarai Press TV.

Menurut Becker, sebuah kekalahan destruktif akan menghancurkan potensi AS untuk menancapkan akarnya ke Timur Tengah, Asia Timur, bahkan di belahan bumi lainnya. Kedua partai di AS mendukung perang ini. Mereka yang tidak berpikiran sama, dipaksa untuk bungkam.

Beberapa rakyat pun tak lagi meyakini misi yang terbalut dalam propaganda War on Terrorism ini bakalan sukses. Misalnya Jenni Bristol, warga AS yang tinggal di New York. Ia menyatakan perang Afghanistan sia-sia belaka. "Mana buktinya, Osama bin Laden masih hidup," katanya.

Sementara Timothy Tweedy dari Long Island menyatakan, perang terhadap terorisme takkan pernah usai selama kebutuhan setiap orang terpenuhi. "Terorisme akan selalu muncul. Menyelesaikannya bukan dengan kekerasan dan aksi militer," ujar Tweedy.

"Menurut saya, takkan pernah ada pemenangnya dalam perang ini. Memang, serangan teror 9/11 sangat tragis. Tapi aksi-aksi yang kita lakukan ini malah berujung pada kekerasan yang sebenarnya tak perlu terjadi. Negara kita berkesan gelisah dan selalu merasa tak aman," papar Amanda dari Georgia.

Dukungan untuk AS memang terlihat semakin kendor. Selain menggerus kas AS, kepercayaan rakyat hampir nihil. Para sekutu pun berpikir demikian. Terlihat dari Prancis, Inggris, Belanda dan Kanada yang perlahan mulai menarik mundur pasukannya.

"Ini sebuah taktik global untuk menyatakan tak lagi mendukung dan percaya misi AS di Afghanistan. Pada Juli 2010, konflik itu secara meluas sudah disebut sebagai perang Amerika. Bukan perang sekutu atau perang Barat," kata pengamat politik situs DeathAndTaxes, Stephen Blackwell.

Kebudayaan dan kesukuan di Afghanistan tergolong kompleks. Meski begitu banyak perbedaan di kalangan rakyat sendiri, mereka bersatu melawan musuh yang sama. Belum lagi sentimen keagamaan, melibatkan Afghanistan yang memposisikan diri sebagai Islam dan Amerika yang non-Muslim.

"Sehingga terkadang, perang Afghanistan ini sendiri dianggap sebagai perang melawan Islam. Ini juga terkait dengan teroris 9/11 yang Muslim," lanjutnya.

Perang melawan terorisme ini sudah berubah menjadi perang ideologis. Satu pihak mengusung Islam radikal ekstrem dan lainnya membawa misi demokras. Meski perang ini dimenangkan sekutu Barat atau terjadi perundungan damai antara kedua pihak, tetap saja aspek terpenting adalah saling pengertian.

Demilitarisasi harus menjadi tujuan jangka panjang. Hal ini hanya bisa dicapai jika pasukan sekutu bisa mengambil hati rakyat Afghanistan, Taliban, Al Qaeda dan berbagai kelompok teroris lainnya. "Jangan beri mereka motif untuk kembali melancarkan serangan teror," pungkas Blackwell. [ast]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar