abdahdelphi.blogspot.com

Minggu, 17 Oktober 2010

Skandal Seks di Internet Jadi Tren





Saat ini, pengalaman intim bisa dengan cepat menjadi konsumsi publik di AS. Orang cukup mudah membuat halaman web dan menayangkan video online. Apalagi teknologi semakin memudahkan penyebaran adegan seks yang direkam lewat ponsel berkamera atau dokumentasi video yang dimiliki.
Lebih dari 80% warga Amerika memiliki ponsel serta smartphone, dalam jumlah yang terus berkembang. Semakin muda seseorang, semakin besar pula keinginan untuk memiliki perangkat tersebut.
"Isu dasarnya adalah informasi pada saat ini telah menjadi bagian dari dokumen global di internet," kata Frederick Lane penulis buku 'American Privacy'.
Keberadaan situs jejaring sosial Facebook dan Twitter membuat semakin bahaya. "Media online memungkinkan semua orang mendapatkan semua detail informasi pribadi," ujar Rebecca Jeschke, juru bicara Electronic Frontier Foundation.
Gail Wyatt, direktur program kesehatan seksual di University of California, Los Angeles mengatakan pamer informasi kehidupan pribadi di internet, apalagi soal cerita intim seperti itu dapat menghancurkan hubungan dan menimbulkan kerugian psikologis
"Internet adalah media yang dapat dikonsumsi khalayak begitu luas," kata Wyatt. "Keintiman melibatkan begitu banyak privasi. Ada yang berpikir bahwa banyak orang berharap mereka dapat berbicara seks secara online. Padahal ini tidak pantas."
Banyak orang, terutama individu berusia muda tidak menyadari betapa mudahnya informasi intim meskipun sedikit, bisa menyebar. Dan betapa tidak mungkinnya berita itu ditarik kembali dari internet.
Wyatt menyarankan setiap individu berdiskusi dengan orang lain jika menyangkut bagaimana mereka menjalani suatu hubungan. Tidak hanya itu, teliti suatu ruangan publik apakah bebas dari kamera tersembunyi atau alat perekam.
Masalah teknologi juga telah menimpa individu yang lebih muda. Menurut data, pengguna ponsel di Amerika Serikat dimulai pada usia 10 tahun. "Kita memberikan perangkat yang punya dampak besar ke tangan anak-anak. Padahal, mereka tidak memiliki gambaran soal bagaimana seharusnya mereka memanfaatkan alat itu," kata Lane.
Muncul masalah sangat serius saat masyarakat tidak mengindahkan sisi etika dan moral terkait privasi. Pendidikan adalah jawabannya, kata Lane. "Saya rasa kita belum melakukan pekerjaan optimal, baik guru atau orangtua, untuk menyebarkan informasi penggunaan teknologi yang benar."
Meskipun internet murah, gampang diakses namun punya banyak kelemahan. Tapi Jeschke masih optimis ada 'sisi malaikat' dari media baru ini. "Teknologi tidak selalu buruk. Anda dapat memanfaatkannya sebagai media jurnalistik investigatif misalnya. Tidak hanya itu, Anda bisa menggapai khayalak begitu besar dengan menyebarkan pesan yang tepat." [mdr]

1 komentar:

Anonim mengatakan...

wah gawat

Poskan Komentar